Selasa, 05 Januari 2016

Laporan Praktikum Biologi Laut Linda Pratiwi



HALAMAN PENGESAHAN
Judul                  : Laporan Praktek Lapangan Biologi Laut
Nama                  : Linda Pratiwi
Stambuk             : 21206013
Program  Studi   : Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan
Fakultas              : Perikanan Dan Ilmu Kelautan





Mengetahui dan Menyetujui,
Asisten


Asbul Bahri




Dosen Koordinator Praktikum



Suharta Amijaya Husen. S.Kel, M.Si
NIDN. 0908038202


KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat serta karunia-Nya kepada penyusun sehingga praktikum dan penyusunan laporan ini yang berjudul “ Laporan lengkap Praktikum Mata Kuliah Biologi Laut” dapat terlaksana dengan baik.  Tak lupa penyusun mengucapkan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak berperan penting dalam membantu penyusunan laporan ini, yaitu kepada bapak dan ibu sebagai dosen pembimbing yang banyak memberikan semangat dan masukan baik dalam toeri maupun pelaksanaannya.
Dalam penyusunan laporan lengkap peyusun meyadari bahwa laporan ini sangat jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan, oleh karena itu peyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun sehingga dapat dijadikan pedoman agar memperbaiki penyusunan laporan selanjutnya. 



Kendari,  28 Januari 2014


                                                                                           
                                                                                            Linda Pratiwi






DAFTAR ISI
HalamanJudul
Halaman Pengesahan...............................................................................          i
Kata Pengantar.........................................................................................          ii
Daftar Isi....................................................................................................          iii
Daftar Tabel..............................................................................................          iv  
Daftar Gambar.........................................................................................          v
BAB I.   PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang.............................................................................          1
1.2.Tujuan..........................................................................................          2
1.3.Manfaat........................................................................................          3
BAB II.  TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Perairan Laut................................................................................          4
2.2.Pengertian Zona Intertidal...........................................................          5
2.3.Parameter Fisik............................................................................          5
2.4.Parameter Kimia .........................................................................          7
2.5.Biota Pada Zona Intertidal .........................................................          7
2.6.Mangrove ....................................................................................          8
2.7.Lamun .........................................................................................          11
2.8.Terumbu Karang .........................................................................          14
BAB III. METODE PRAKTEK
3.1.Waktu Dan Tempat......................................................................          20
3.2.Alat..............................................................................................          20
3.3.Prosedur Kerja.............................................................................          21
BAB  IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.Gambaran Umum Lokasi ............................................................          23
4.2.Hasil Pengamatan........................................................................          23
4.3.Pembahasan.................................................................................          28
BAB  V. PENUTUP
5.1.Kesimpulan..................................................................................          35
5.2.Saran............................................................................................          36

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN


DAFTAR TABEL
Tabel 1. Alat Dan Kegunaan......................................................................          20
Tabel 2. Mangrove Stasiun I.......................................................................          23
Tabel 3. Mangrove Stasiun II.....................................................................          24
Tabel 4. Mangrove Stasiun III....................................................................          24
Tabel 5. Terumbu Karang ..........................................................................          28




BAB I
PENDAHULUAN
1.1.            Latar Belakang
            Biologi laut, yakni ilmu pengetahuan tentang kehidupan biota laut, berkembang begitu cepat untuk mengungkap rahasia kehidupan berbagai jenis biota laut yang jumlah jenisnya luar biasa besarnya dan keanekaragaman jenisnya luar biasa tingginya.
            Lautan di dunia merupakan kesatuan ekosistem dimana serangkaian komunitas dapat mempengaruhi faktor-faktor fisik dan kimia air laut di sekelilingnya. Ekosistem yang besar ini dapat dibagi menjadi daerah-daerah kecil dimana parameter fisika dan kimia mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap populasi dari daerah tersebut.
Indonesia merupakan suatu negara kepulauan terdiri dari 13.667 pulau besar dan kecil, dengan luas daratannya 2.027.087 km2 (terdiri dari laut teritorial dan laut nusantara).
Laut seperti halnya daratan dihuni oleh biota, yakni tumbuhan-tumbuhan hewan dan mikroorganisme hidup. Biota Laut menghuni hampir semua bagian laut, mulai dari pantai permukaan laut sampai dasar laut yang terjeluk sekalipun. Keberadaan biota laut ini sangat menarik perhatian manusia, bukan saja karena kehidupannya yang penuh rahasia, tetapi juga karena manfaatnya yang besar bagi kehidupan manusia. Pemanfaatan biota laut yang makin hari makin meningkat dibarengi oleh kemajuan pengetahuan tentang kehidupan biota laut yang tertampung dalam ilmu pengetahuan alam laut yang dinamakan biologi laut (marine biology).
Biologi laut, yakni ilmu pengetahuan tentang kehidupan biota laut, berkembang begitu cepat untuk mengungkap rahasia kehidupan berbagai jenis biota laut yang jumlah jenisnya luar biasa besarnya dan keanekaragaman jenisnya luar biasa tingginya. Tingginya keanekaragaman jenis biota di laut barangkali hanya dapat ditandingi oleh keanekaragaman jenis biota di hutan hujan tropik di darat.
            Biota laut hampir menghuni sebagian laut mulai dari pantai, permukaan laut sampai ke dasar laut serta di sekitar muara sungai. Berbagai jenis dari biota laut ini bermacam-macam mulai dari golongan tumbuhan ataupun hewan terbagi lagi dalam beribu-ribu spesies. Pengetahuan atas masing-masing spesies perlu dikuasai untuk dapat mempermudah dalam pengidentifikasian. Selain pengetahuan akan berbagai biota, disamping itu juga perlu pemahaman akan dunia dan pola perkembangan dari biota-biota laut.

1.2.            Tujuan
            Adapun tujuan dari praktikum ini, yaitu :
1.                  Mahasiswa dapat membedakan dan menunjukkan berbagai jenis mangrove, lamun dan terumbu karang, berdasarkan spesiesnya.
2.                  Dapat mengidentifikasi masing-masing jenis mangrove, lamun dan terumbu  karang yang ada dengan bantuan buku identifikasi.
3.                  Praktikan dapat mempelajari dan mengetahui morfologi mangrove, lamun   dan terumbu karang.
4.                  Dapat mengetahui sistem pengambilan data mangrove, lamun dan terumbu             karang.

1.3.            Manfaat
            Setelah melakukan praktikum biologi laut mangrove, lamun, dan terumbu karang. Mahasiswa diharapkan telah dapat memahami cara pengambilan data dan dapat menjelaskan morfologi mangrove, lamun dan terumbu karang, serta mampu mengklasifikasikan dalam susunan yang benar serta dapatmeningkatkan pengetahuan dan wawasan praktikan, untuk mendapatkan data dan informasi mengenai organisme laut terutama yang hidup di daerah pantai.














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.            Perairan Laut
            Perairan Laut adalah wilayah permukaan bumi yang tertutup oleh air asin. Perairan laut dari pantai sampai ke dasar laut. Ilmu yang mempelajari tentang keadaan lautan disebut oseanografi. Luas laut dibandingkan dengan daratan adalah 7 : 3 (Rahmatkusnadi, 2012).
            Laut adalah kumpulan air asin dalam jumlah yang banyak dan luas yang menggenangi dan membagi daratan atas benua atau pulau. Laut merupakan air yang menutupi permukaan tanah yang sangat luas dan umumnya mengandung garam dan berasa asin. Biasanya air mengalir yang ada di darat akan bermuara ke laut.
            Air di laut merupakan campuran dari 96,5% air murni dan 3,5% material lainnya seperti garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-partikel tak terlarut. Sifat-sifat fisis utama air laut ditentukan oleh 96,5% air murni (Wikipedia, 2012).
            Laut, menurut sejarahnya, terbentuk 4,4 milyar tahun yang lalu, dimana awalnya bersifat sangat asam dengan air yang mendidih (dengan suhu sekitar 100 °C) karena panasnya Bumi pada saat itu. Asamnya air laut terjadi karena saat itu atmosfer Bumi dipenuhi oleh Karbondioksida. Keasaman air inilah yang menyebabkan tingginya pelapukan dan menyebabkan air laut menjadi asin seperti sekarang ini.

2.2.            Pengertian Zona Intertidal
            Menurut Anonymous (2009), zona Intertidal (pasang surut ) adalah bagian dari pantai dan laut. Kadang dikenal sebagai zona daerah pesisir .Merupakan area yang ditunjukan ke angkasa pada air surut dan menyelam pada pasang naik .Area ini merupakan suatu potongan sempit ,seperti di Pulau Pasifik yang hanya mempunyai cakupan pasang surut sempit atau garis pantai yang berhubungan dengan pasang surut tinggi.

2.3.            Parameter Fisika
1.                  Pasang surut
            Tipe pasang surut ditentukan oleh frekuensi air pasang dan surut setiap hari . Jika perairan tersebut mengalami satu kali pasang dan satu kali surut disebut pasang surut tunggal, jika terjadi 2 kali pasang dan 2 kali surut dalam satu hari disebut pasang surut ganda. Pasang surut peralihan antara tunggal dan ganda disebut” pasang surut campuran” (Prajitno , 2007).

2.                  Suhu
            Kisaran perubahannya kecil, karena sifat fisiknya, seperti di lautan, biasanya jarang melebihi lethal organisme. Di daerah intertidal biaanya dipengaruhi oleh suhu udara selama periode berbeda-beda, suhu mempunyai kisaran luas baik secara harian / musiman. Kisaran ini dapat melebihi batas toleransi (Prajitno 2007).
            Jika pasang surut terjadi ketika suhu udara minimum (daerah sedang-dingin, kutub) atau ketika suhu udara maximum (tropik), batas lethal dapat terlampaui dan organisme dapat mati. Walaupun kematian tidak segera terjadi, organisme akan menjadi semakin lemah karena suhu yang ekstrim sehingga tidak dapat menjalankan kegiatan seperti biasa dan akan mati karena sebab sekunder. Suhu juga mempunyai pengaruh yang tidak langsung.Organisme laut dapat mati karena kehabisan air. Kehabisan air dapat dipercepat dengan meningkatnya suhu

3.                  Gelombang
            Gelombang   dibagi menjadi :
1.            Ombak terjun biasanya terlihat di pantai yang lautnya terjal. Ombak ini     menggulung tinggi, kemudian jatuh dengan bunyi yang keras dan bergemuruh.
2.            Ombak landau terbentuk di pantai yang dasar lautnya landau. Pada waktu ombak menyerbu pantai, pada bagian depannya terdapat sebaris buih yang senantiasa berjatuhan. Ombak landau selamanya berada dalam keadaan hamper pecah. Berkurangnya ke dalam air tidak secara mendadak, sehingga ombak bergulung ke pantai agak jauh sebelum pecah (Prajitno, 2007).

4.                  Kecerahan
Kecerahan (perairan) adalah sebagian cahaya yang diteruskan di dalam air dan dinyatakan dengan persen (%) dari beberapa panjang gelombang di daerah spektrum yang terlihat cahaya yang melalui lapisan sekitar satu meter, jatuh agak lurus pada permukaan air (Kardi dan Tancung, 2007).

2.4.            Parameter Kimia
Ø    Salinitas
Menurut Eka (2005), Salinitas adalah jumlah total material terlarut (yang dinyatakan dalam gram) yang terkandung dalam 1 kg air laut. Material yang terlarut tersebut 89 % terdiri dari garam Chlor, sedangkan sisanya 11 % terdiri dari unsur-unsur lainnya. Satuan salinitas adalah 0/00 (per mil). Faktor utama yang mempengaruhi perubahan salinitas yaitu :
·         Evaporasi (penguapan) air laut
·         Hujan       
·         Mencair/membekunya es
·         Aliran sungai menuju ke laut
            Faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi suhu dan salinitas di perairan ini adalah penyerapan panas (heat flux), curah hujan (presipitation), aliran sungai (flux) dan pola sirkulasi arus. Perubahan pada suhu dan salinitas akan menaikan atau mengurangi densitas air laut di lapisan permukaan sehingga memicu terjadinya konveksi ke lapisan bawah (Hadi, 2008).

2.5.            Biota Pada Zona Intertidal
            Pada kawasan intertidal banyak didominasi oleh hewan-hewan yang bergerak cepat untuk mencari makan seperti beberapa jenis kepiting dan atau mengubur diri ke dalam pasir seperti beberapa jenis kerang-kerangan (bivalve) dan cacing pantai (Annelida). Khusus pada zona intertidal, hewan-hewan yang membenamkan diri pada pasir (infauna) lebih banyak dijumpai dibandingkan dengan daerah subtidal yang didominasi oleh hewan-hewan kecil yang hidup di atas permukaan pasir (epifauna) (Wirahman, 2009).
            Komposisi spesies penyusun makrobentos di zona intertidal Desa Angkatan dan Desa Bilis-Bilis adalah spesies dari phylum Annelida (Polychaeta), phylum Mollusca (Bivalvia), phylum Anthropoda (Crustacea, Amphipoda) dan phylum Sipunculan, Montipora sp umunya ditemukan dengan bentuk koloni yang submassive, laminar, foliaceous, encrusting atau banching. Memiliki koralit yang sangat kecil.Tidak memiliki kolumella.Septa menuju ke dalam dengan dinding koralit terpisah dengan konesteum tapi juga kadang-kadang menyatu.Koloni memiliki waran coklat keabu-abuan, kadang-kadang warnanya lebih muda di sepanjang tepinya.Umumnya terdapat pada daerah intertidal terutama di puncak karang.Cymodoceamotundata adalah salah satu jenis yang dominan pada zona intertidal (Prajitno, 2007).

2.6.            Manggrove
            Klasifikasi dari jenis mangrove Rizophora Stylosa dan Soneretia Alba, yaitu sebagai berikut :
a.                  Rizophora Stylosa
            Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Malpighiales
Family : Rhizophoraceae
Genus : Rhizophora
                                                                                    Species : Rhizophora stylosa
b.                  Soneratia Alba
Divisi     :Magnoliophyta
Kelas     :Magnoliopsida
Bangsa  :Magnoliales
Suku      :Sonneratiaceae
Marga   :Sonneratia         
Jenis         :Sonneratiaalba

            Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik (Anonymous, 2009).
            Hutan mangrove juga menyediakan habitat alami yang unik bagi berbagai macam flora dan fauna laut serta air payau. Dalam dua dekade ini keberadaan ekosistem mangrove mengalami penurunan kualitas secara drastis.  Saat  ini mangrove yang tersisa hanyalah berupa komunitas - komunitas mangrove yang ada di sekitar muara - muara sungai dengan ketebalan 10 -100 meter, didominasi oleh  Avicennia marina diikuti oleh jeni Rhizophora mucronata, Sonnerati alba dan Sonneratia caseolaris yang semuanya memiliki manfaat sendiri, misalkan pohon Avicennia memiliki kemampuan dalam mengakumulasi (menyerap dan menyimpan dalam organ daun, akar dan batang) logam berat pencemar, sehingga keberadaan mangrove dapat berperan untuk menyaring dan mereduksi tingkat pencemaran diperairan laut dan manfaat ekonomis seperti hasil kayu serta bermanfaat sebagai pelindung bagi lingkungan ekosistem daratan dan lautan.
            Hutan Mangrove memberikan perlindungan kepada berbagai organisme baik hewan darat maupun hewan air untuk bermukim dan berkembang biak. Hutan Mangorove dipenuhi pula oleh kehidupan lain seperti mamalia, amfibi, reptil, burung, kepiting, ikan, primata, serangga dan sebagainya. Selain menyediakan keanekaragaman hayati (biodiversity), ekosistem Mangorove juga sebagai plasma nutfah (geneticpool) dan menunjang keseluruhan sistem kehidupan di sekitarnya. Habitat Mangorove merupakan tempat mencari makan (feeding ground) bagi hewan-hewan tersebut dan sebagai tempat mengasuh dan membesarkan (nursery ground), tempat bertelur danmemijah (spawning ground) dan tempat berlindung yangaman bagi berbagai ikan-ikan kecil dari predator (Rahmawaty, 2006).
            Keberadaan hutan mangrove dapat sebagai penahan angin (win breaker) sehingga kecepatan dan kekuatan angin dapat berkurang atau dibelokkan  sebelum sampai ke permukiman penduduk. Hutan mangrove secara umum mampu mempertahankan keberadaan daratan di tepi pantai. Batang mangrove yang rapat dengan banyak akar nafas disekitarnya mampu menahan tanah di daerah pantai dari kikisan air laut.  Hutan mangrove memiliki produktifitas primer yang tinggi karena dapat memberikan kontribusi yang besar berupa bahan organik (Triatmoko dan Kade, 2007).

2.7.            Lamun
            Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (angiospermae) yang berbiji satu (monokotil) dan mempunyai akar rimpang, daun, bunga dan buah. Jadi sangat berbeda dengan rumput laut (algae). Lamun dapat ditemukan di seluruh dunia kecuali di daerah kutub.
            Peranan padang lamun secara fisik di perairan laut dangkal adalah membantu mengurangi tenaga gelombang dan arus, menyaring sedimen yang terlarut dalam air dan menstabilkan dasar sedimen. Peranannya di perairan laut dangkal adalah kemampuan berproduksi primer yang tinggi yang secara langsung berhubungan erat dengan tingkat kelimpahan produktivitas perikanannya. Keterkaitan perikanan dengan padang lamun sangat sedikit diinformasikan, sehingga perikanan di padang lamun Indonesia hampir tidak pernah diketahui. Keterkaitan antara padang lamun dan perikanan udang lepas pantai sudah dikenal luas di perairan tropika Australia (Zulkifli,2003)
            Selain itu, padang lamun diketahui mendukung berbagai jaringan rantai makanan, baik yang didasari oleh rantai herbivor maupun detrivor. Nilai ekonomis biota yang berasosiasi dengan lamun diketahui sangat tinggi. Ekosistem padang lamun memiliki nilai pelestarian fungsi ekosistem serta manfaat lainnya di masa mendatang sesuai dengan perkembangan teknologi, yaitu produk obat-obatan dan budidaya laut. Beberapa negara telah memanfaatkan lamun untuk pupuk, bahan kasur, makanan, stabilisator pantai, penyaring limbah, bahan untuk pabrik kertas (Husni, 2003).
            Padang lamun merupakan habitat bagi beberapa organisme laut. Hewan yang hidup dipadang lamun ada yang sebagai penghuni tetap dan ada pula yang bersifat sebagai pengunjung. Ada hewan yang datang untuk memijah seperti ikan dan ada pula hewan yang datang mencari makan seperti sapi laut (dugong-dugong) dan penyu (turtle) yang makan lamun Syriungodium isoetifolium dan Thalassia hemprichii (Husni, 2003).
Tumbuhan lamun merupakan satu-satunya tumbuhan berbunga  dan  berpembuluh  (vascular plant)  yang  sudah  sepenuhnya  menyesuaikan  diri hidup  terbenam  di  dalam  air  laut.  Beberapa  jenis lamun  bahkan  ditemukan  tumbuh  sampai  8–15 meter  dan  40  meter.  Tumbuhan  lamun  jelas memiliki  akar, batang, daun, buah dan biji. Lamun termasuk dalam kelas monocotyledoneae, anak kelas alismatidae  (Rifqi,  A.,  2008),  yang  terdiri  atas  2 famili,  yaitu  hydrocharitacheae  dan potamogetonaceae,  12  genera,  dan  60  spesies.  7 generasi  diantaranya  berada  di  perairan  tropis,  dari family  hydrocharitacheae  yaitu  enhalus  sp, halophila  sp,  dan  thallassia  sp,  sedangkan  dari famili  potamogetonaceae,  yaitu  chymodeceae  sp, halodule  sp,  syringodium  sp,  dan  thalassodendron sp.  (Hartog,  1970  dalam  laporan  CORMAP, 2006).  Lamun  termasuk  dalam  divisi  thallophys (tumbuhan  berthalus)  dengan  ciri  khas  memiliki akar, batang dan daun belum bisa dibedakan  (Rifqi, A. 2008)
                    
Adapun klasifikasi lamun yang berada diperairan Pantai Roda, yaitu :

1.                  Thalassia Hemprichii
Kingdom: Plantae
                 Divisi : Spermatophyta
                          Class: Liliopsida
                                      Ordo : Alismatales
                                                Family: Hydrocharitaceae
                                                                 Genus: Thalassia .
                                                                                    Spesies :Thalassia hemprichii

2.                  Halophila Ovallis
Devisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Bangsa : Hydrocharitales
Suku : Hydrocharitaceae
Marga : Halophila
Jenis : Halophila Ovalis

3.                  Enhalus Acoroides
Kingdom: Plantae
                        Divisi : Spermatophyta
                                             Class: Liliopsida
                                                             Ordo: Hydrocharitales
                                                                               Family: Hydrocharitaceae
                                                                                                    Genus: Enhalus
                                                                  Spesies : Enhalus acoroide

2.8.            Terumbu Karang
            Klasifikasi terumbu karang yang berada disekitar transect garis sepanjang 50 meter di Perairan Pantai Roda, yaitu :

a.                  Acrophora Hicintus
Family : Acroporidae
            Genus : Acropora
                        Spesies : Acropora Hyacinthus

b.                  Fungia Elegant
Kingdom         : Animalia
      Phylum      : Coelenterata
                                    Classis : Anthozoa
                                                 Ordo : Madreporaria
                                                            Familia : Fungidae
                                                                               Genus : Fungia          
                                                                             Spesies : Fungia elegant






c.                   Montipora Stilosa
Family : Acroporidae
            Genus : Montipora
                        Spesies : Montipora Stilosa

d.                  Porites Lutea
Sub Kingdom : Metazoa
         Phylum : Coelenterata               
                 Sub Phylum : Cnidaria
                             Classis : Anthozoa
                                    Sub Classis : Hexacorallina
                                                Ordo : Screllactinia
                                                            Family : Poritidae
                                                                             Genus : Porites
                                                                           Spesies : Porites Lutea

e.                   Acrophora Millepora
Family : Acroporidae
                 Genus : Acropora  
                        Spesies : Acropora Millepora

f.                   Millepora
Kingdom : Animalia
            Phylum : Cnidaria
                        Class : Hidrozoa
                                    Ordo : Anthomedusae
                                                Family : Millepollidae
                                                            Genus : Millepora
            Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem yang amat penting bagi keberlanjutan sumberdaya yang terdapat di kawasan pesisir dan lautan, dan umumnya tumbuh di daerah tropis, serta mempunyai produktivitas primer yang tinggi (10 kg C/m2/tahun). Tingginya produktivitas primer di daerah terumbu karang ini menyebabkan terjadinya pengumpulan hewan-hewan yang beranekaragam seperti; ikan, udang, mollusca, dan lainnya (Zalfa, 2011).
            Ekosistem terumbu karang merupakan bagian dari ekosistem laut yang penting karena menjadi sumber kehidupan bagi beraneka ragam biota laut. Di dalam ekosistem terumbu karang ini pada umumnya hidup lebih dari 300 jenis karang, yang terdiri dari sekitar 200 jenis ikan dan berpuluhpuluh jenis moluska, crustacean, sponge, alga, lamun dan biota lainnya. Terumbu karang bisa dikatakan sebagai hutan tropis ekosistem laut. Ekosistem ini terdapat di laut dangkal yang hangat dan bersih dan merupakan ekosistem yang sangat penting dan memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi (Darmadi, 2010)
Koloni karang dibentuk oleh ribuan hewan kecil yang disebut Polip. Dalam bentuk sederhananya, karang terdiri dari satu polip saja yang mempunyai bentuk tubuh seperti tabung dengan mulut yang terletak di bagian atas dan dikelilingi oleh Tentakel.
Namun pada kebanyakan Spesies, satu individu polip karang akan berkembang menjadi banyak individu yang disebut koloni. Hewan ini memiliki bentuk unik dan warna beraneka rupa serta dapat menghasilkan CaCO3. Terumbu karang merupakan habitat bagi berbagai spesies.
Terumbu karang terdapat di lingkungan perairan yang agak dangkal.Terumbu karang terutama terbentuk dari endapan-endapan kalsium karbonat (CaCO3) yang dihasilkan oleh organisme karang, alga berkapur dan organisme lain yang mengeluarkan kalsium karbonat.
Sedikitnya ada dua jenis karang, yakni:
1.                  Terumbu karang yang keras antara lain elkhorn coral dan juga brai coral. Ia merupakan jenis karang batu kapur dengan tekstur yang sangat keras dan kemudian membentuk batuan karang. Meski tampilannya kokoh, namun jenis karang yang satu ini sangat mudah rapuh sebab rentan terhadap perubahan lingkungan di sekitarnya.
2.                  Terumbu karang lunak, misalnya sea fingers dan juga sea whips. Terumbu karang yang satu ini tidak membentuk karang. Ada beberapa tipe terumbu karang lunak ini, misalnya saja fringing reef yang tumbuh di sepanjang pantai di wilayah continental shelf.
Jika didasarkan pada bentuknya, maka sedikitnya ada 4 bentuk terumbu karang antara lain :
1.                  Terumbu karang tepi atau fringing reefs. Ia berkembang secara umum pada pesisir pantai di pulau-pulau besar. Terumbu karamg yang satu ini memiliki bentuk melingkar dengan penanda  bentukan ban atau berupa bagian endapan karang yang telah mati dan mengelilingi pulau.
2.                  Terumbu karang penghalang atau barrier reefs. Jenis terumbu karang yang satu ini berada pada wilayah laut yang jauh dari tepi. Ia kadang berbentuk lagoon atai kolom air dan juga berbentuk celah perairan dengan lebar puluhan kilometer.
3.                  Terumbu karang cincin atau atolls. Jenis yang satu ini serupa dengan cincin dan mengelilingi batas dari beberapa pulau vulkanik yang tenggelam dan menyebabkan tak adanya batasan yang jelas dengan daratan.
4.                  Terumbu karang datar atau patch reefs. Jenis yang satu ini terletak di bawah hingga ke bagian permukaan lautan. Dalam kurun waktu tertentu, jenis karang yang satu ini akan membatu dan membentuk pulau yang datar.

Terumbu karang pada umumnya hidup di pinggir pantai atau daerah yang masih terkena cahaya matahari kurang lebih 50 m di bawah permukaan laut. Beberapa tipe terumbu karang dapat hidup jauh di dalam laut dan tidak memerlukan cahaya, namun terumbu karang tersebut tidak bersimbiosis dengan zooxanthellae dan tidak membentuk karang.
Ekosistem terumbu karang sebagian besar terdapat di perairan tropis, sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan hidupnya terutama suhu, salinitas, sedimentasi, Eutrofikasi dan memerlukan kualitas perairan alami (pristine). Demikian halnya dengan perubahan suhu lingkungan akibat pemanasan global yang melanda perairan tropis di tahun 1998 telah menyebabkan pemutihan karang (coral bleaching) yang diikuti dengan kematian massal mencapai 90-95%. Selama peristiwa pemutihan tersebut, rata-rata suhu permukaan air di perairan Indonesia adalah 2-3 °C di atas suhu normal.


BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1.            Waktu dan Tempat
            Praktikum ini di laksanakan pada hari Minggu, Tanggal 1 Desember 2013.  Pukul 08.00 – 10.00 WITA.  Bertempat diperairan Pantai Roda, Desa Atowatu, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe Provensi Sulawesi Tenggara.

3.2.            Alat dan Kegunaan
            Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini disajikan pada tabel I
Tabel 1. Alat dan Kegunaan
No.
Alat
Kegunaan
1
Meteran Roll
Mengukur luas area praktikum dan untuk mengukur diameter dan tinggi pohon mangrove.
2
Tali Rafia
Membuat transek
3
Pasak
Menentukan batas area transek
4
Gps
Menentukan titik koordinat
5
Camera
Untuk dokumentasi
6
Alat dasar
Membantu pengambilan data terumbu karang
7
Buku identifikasi
Mengidentifikasi jenis-jenis mangrove, lamun dan terumbu karang.
8
Perahu
Alat transportasi
9
Alat tulis
Mencatat hasil identifikasi



  
3.3.            Prosedur Kerja
1.                  Mangrove
·                     Menentukan stasiun untuk pengambilan data
·                     Diletakakan tiga plot pengamatan (substasiun) vegetasi mangrove disepanjang transseck kuadrat dengan menggunakan tali raffia yang beukuran 10 m x 10 m persegi.
·                     Diukur diameter pohon pada ketinggian pohon 130 cm
·                     Mengukur tinggi pohon dengan mengukur mulai dari akar sampai cabang
·                     Diukur diameter dan tinggi pohon menggunakan meteran kain
·                     Dicatat jumlah, jenis, diameter dan tinggi pohon manggrove  yang ada didalam plot
·                     Amati jenis biota yang terdapat didalam plot pengamatan
·                     Dilakukan dokuntasi

2.                  Lamun
·                     Membuat transect kuadarat berukuran 1 meter x 1 meter
·                     Menentukan stasiun untuk pengambilan data
·                     Bentangkan transek kuadarat yang berukuran 1 meter x 1 meter
·                     Dilakukan pengamatan pada tiap bagian transect kuadarat dengan menghitung jumlah lamun yang berada didalam transect kuadarat, menentukan jeni-jenis lamun, menghitung jumlah tegakkan dan kepdatan lamun.
·                     Dilakukan dokumentasi
3.                  Terumbu Karang
·                     Menentukan titik koordinat tempat identifikasi terumbukarang
·                     Ditarik transect garis sepanjang 50 meter mengikuti garis pantai atau secara horizontal dengan menggunakan tali raffia
·                     Dilakukan pengukuran jarak antara karang mati dan karang hidup
·                     Mengidentifikasi bentuk pertumbuhan karang yang berada tepat dibawah garis transect dengan jarak antara karang hidup dan karang mati
·                     Mengidentifikasi jenis-jenis karang yang berada dibawah transect
·                     Mengidentifikasi jenis organisme laut yang berasosiasi diterumbu karang
·                     Dilakukan dokumentasi

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.            Gambaran Umum Lokasi Praktikum
Dalam melakukan praktek Biologi Laut, di Pantai Roda Desa Otowatu, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara Minggu tanggal 1 Desember 2013. Dengan letak geografis sebelah timur berbatasan dengan laut Banda, sebelah selatan berbatasan dengan Bintang Samudera, sebelah barat berbatasan dengan Kota Kendari, sebelah utara berbatasan dengan laut Banda, dengan penduduk berbagai macam suku, dan di dominasi suku Tolaki sekitar 75%, suku Bugis dan Sulawesi Selatan sekitar 20%, dan suku lain sekitar 5%. Kehidupan di desa ini sebagian besar  nelayan 80%, petani dan lain-lain 20%.

4.2.            Hasil Pengamatan
1.                  Mangrove
            Hasil pengambilan data mangrove oleh kelompok 1,  pada stasiun I, II dan III adalah sebagai berikut :
Tabel 2. Stasiun I, titik koordinat S = 030 53:590’ E = 1220 37 : 645’
No.
Jenis Identifikasi
Hasil Identifikasi
1
Jenis Mangrove
Soneratia Alba
2
Anakan
3 Pohon
3
Diameter Pohon


-          Pohon I
1.64 cm

-          Pohon II
2.79 cm
4
Tinggi Pohon


-          Pohon I
4.30 meter

-          Pohon II
2 meter
5
Organisme Laut
Kepiting

Organisme Darat
Burung
6
%
5x5=0
7
Jumlah Pohon
2 Pohon
8
Substrat
Lumpur Berpasir


Tabel 3. Stasiun II, titik koordinat S = 030 53:588’ E = 1220 37 : 645’
No
Jenis Identifikasi
Hasil Identifikasi
1
Jenis Mangrove
Soneratia Alba
2
Anakan
4 Pohon
3
Diameter Pohon


-          Pohon I
59 cm

-          Pohon II
157 cm
4
Tinggi Pohon


-          Pohon I
2.55 meter
-          Pohon II
6.70 meter
5
Organisme Laut
Kepiting dan kerang

Organisme Darat
Semut
6
%
5x5=1
7
Jumlah Pohon
2 pohon
8
Substrat
Lumpur

Tabel 4. Stasiun III, titik koordinat S = 030 53:592’ E = 1220 37 : 688’
No
Jenis Identifikasi
Hasil Identifikasi
1
Jenis Mangrove
Rizophora Stylosa
2
Anakan
10 Pohon
3
Diameter Pohon


-          Pohon I
63 cm
-          Pohon II
40 cm
-          Pohon III
86 cm
-          Pohon IV
72 cm
4
Tinggi Pohon


-          Pohon I
2.38 meter
-          Pohon II
1.50 meter
-          Pohon III
1.85 meter
-          Pohon IV
2.80 meter
5
Organisme Laut
Kepiting

Organisme Darat
Semut
6
%
5x5=1
7
Jumlah Pohon
4 Pohon
8
Substrat
Pasir



2.                  Lamun
v    Hasil pengambilan data Lamun pada stasiun I dengan titik koordinat S = 030 53:451’ E = 1220 37 : 548’ adalah sebagai berikut :
6
6
7
5
2
4
5
6
7
5
5
6
5
2
6
3
5
4
4
5
4
3
3
1
3

v    Hasil pengambilan data Lamun pada stasiun II dengan titik koordinat S = 030  53:439’   E= 1220 37:524’ adalah sebagai berikut :
5
6
3
3
4
3
3
4
5
5
3
4
3
4
4
4
5
6
4
4
4
5
6
6
5

v    Hasil pengambilan data Lamun pada stasiun III dengan titik koordinat S = 030  53:424’   E= 1220 37:493’ adalah sebagai berikut :
4
8
4
4
5
4
5
2
4
5
6
6
3
3
4
2
4
4
6
3
5
8
4
8
7





3.                  Terumbu Karang
            Gambar hasil pengamatan di Perairan Pantai Roda :
  Gambar 1. Acropora hycinthus                   Gambar 2. Tentacles green
        
Gambar 3. Musroom                                      Gambar 4. Porites lutea
        





Gambar 5. Millepora                                      Gambar 6. Coralline wallis shared
        
Gambar 7. Acropora millepora                      Gambar 8. Montipora
        

Dan tiga jenis lainnya adalah ceniastrea, trachy lia, dan fungia






            Hasil pengambilan data Terumbu Karang pada stasiun I, II dan III adalah sebagai berikut :
Tabel 5. Titik koordinat S=03. 53”310  E= 122. 37”532
No
Jarak (meter)
Karang Hidup dan Karang Mati
1
0-3
Karang Hidup
2
3-4
Karang Mati
3
4-5
Karang Hidup
4
5-8
Karang Mati
5
8-12
Karang Hidup
6
12-13
Karang Mati
7
13-16
Karang Hidup
8
16-20
Karang Mati
9
20-25
Karang Hidup
10
25-32
Karang Mati
11
32-33
Karang Hidup
12
33-37
Karang Mati
13
37-41
Karang Hidup
14
41-47
Karang Mati
15
47-50
Karang Hidup


4.3.            Pembahasan
1.                  Mangrove
            Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik (Anonymous, 2009).
            Hutan Mangrove memberikan perlindungan kepada berbagai organisme baik hewan darat maupun hewan air untuk bermukim dan berkembang biak. Diperairan Pantai Roda hewan darat maupun hewan laut yang berasosiasi  pada mangrove adalah semut, burung, kerang dara dan kepiting rajungan.
            Berdasarkan hasil diatas, didapatkan 2 jenis mangrove yang berbeda pada ke-3 stasiun, yakni Soneratia Alba dan Rizophora Stylosa, dengan jumlah anakkan keseluruhan 17 pohon.
            Untuk mengetahui kerapatan jenis (Di) dan kepadatan relative (RDi) dari ke-3 stasiun dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus Odum (1917), sebagai berikut :

Ø    Kerapatan Jenis Pada Stasiun I
         Di =             dimana :          Di = Kerapatan Jenis (tegakan/1 m2)
                                                            Ni = Jum. Total Species (tegakan)
                                                            A = Luas Daerah Yang Disampling (1 m2)
            Di =  = 0,02 tegakan/1 m2
s              
Ø    Kepadatan Relatif Pada Stasiun I
            RDi = Ni x 100 x n                
            Dimana :          RDi  = Kepadatan Relatif
                                   Ni     = Jum. Total Species (tegakan)
                                   N      = Jum. Total Individu Seluruh Species

           RDi = 2 x 100 x 2 = 400

Ø    Kerapatan Jenis Pada Stasiun II
         Di =             dimana :          Di = Kerapatan Jenis (tegakan/1 m2)
                                          Ni = Jum. Total Species (tegakan)
                                    A = Luas Daerah Yang Disampling (1 m2)
Di =  = 0,02 tegakan/1 m2
Ø    Kepadatan Relatif Pada Stasiun II
            RDi = Ni x 100 x n                
            Dimana :          RDi = Kepadatan Relatif
            Ni   = Jum. Total Species (tegakan)
            N    = Jum. Total Individu Seluruh Species

            RDi = 2 x 100 x 2 = 400

Ø    Kerapatan Jenis Pada Stasiun III
         Di =             dimana :          Di = Kerapatan Jenis (tegakan/1 m2)
                                    Ni = Jum. Total Species (tegakan)
                                    A = Luas Daerah Yang Disampling (1 m2)
            Di =  = 0,04 tegakan/1 m2


Ø    Kepadatan Relatif Pada Stasiun III

            RDi = Ni x 100 x n                
            dimana :          RDi = Kepadatan Relatif
            Ni   = Jum. Total Species (tegakan)
            N    = Jum. Total Individu Seluruh Species

            RDi = 4 x 100 x 4 = 1600












2.                  Lamun
            Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (angiospermae) yang berbiji satu (monokotil) dan mempunyai akar rimpang, daun, bunga dan buah. Jadi sangat berbeda dengan rumput laut (algae). Lamun dapat ditemukan di seluruh dunia kecuali di daerah kutub.
            Padang lamun merupakan habitat bagi beberapa organisme laut. Oranisme yang berasosiasi pada padang lamun diperairan Pantai Roda, yaitu sponge dan bintang laut.
            Berdasarkan hasil diatas, didapatkan 3 jenis lamun yang berbeda pada ke-3 stasiun, yakni Thalassia Hemprichii, Enhalus Acoroides dan Halodule Ovalis.
            Untuk mengetahui kerapatan jenis (Di) dan kepadatan relative (RDi) dari ke-3 stasiun dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus Odum (1917), sebagai berikut :

Ø    Kerapatan Jenis Pada Stasiun I
         Di =             dimana :          Di = Kerapatan Jenis (tegakan/1 m2)
                                                            Ni = Jum. Total Species (tegakan)
                                                            A  = Luas Daerah Yang Disampling (1 m2)
            Di =  = 11 tegakan/1 m2
               







Ø    Kepadatan Relatif Pada Stasiun I
           RDi = Ni x 100 x n                
           dimana :          RDi = Kepadatan Relatif
                                   Ni   = Jum. Total Species (tegakan)
                                   N    = Jum. Total Individu Seluruh Species

           RDi = 11 x 100 x 112 = 123200

Ø    Kerapatan Jenis Pada Stasiun II
         Di =             dimana :          Di = Kerapatan Jenis (tegakan/1 m2)
                                          Ni = Jum. Total Species (tegakan)
                                    A  = Luas Daerah Yang Disampling (1 m2)
Di =  = 6 tegakan/1 m2
                            
Ø    Kepadatan Relatif Pada Stasiun II
            RDi = Ni x 100 x n                
            dimana :          RDi = Kepadatan Relatif
            Ni   = Jum. Total Species (tegakan)
            N    = Jum. Total Individu Seluruh Species

            RDi = 6 x 100 x 6 = 64800

Ø    Kerapatan Jenis Pada Stasiun III
         Di =             dimana :          Di = Kerapatan Jenis (tegakan/1 m2)
                                    Ni = Jum. Total Species (tegakan)
                                    A  = Luas Daerah Yang Disampling (1 m2)
            Di =  = 4 tegakan/1 m2



Ø    Kepadatan Relatif Pada Stasiun III
            RDi = Ni x 100 x n                
            dimana :          RDi = Kepadatan Relatif
            Ni   = Jum. Total Species (tegakan)
            N    = Jum. Total Individu Seluruh Species

            RDi = 4 x 100 x 118 = 47200

3.                  Terumbu Karang
            Ekosistem terumbu karang merupakan bagian dari ekosistem laut yang penting karena menjadi sumber kehidupan bagi beraneka ragam biota laut. Di dalam ekosistem terumbu karang ini pada umumnya hidup lebih dari 300 jenis karang, yang terdiri dari sekitar 200 jenis ikan dan berpuluhpuluh jenis moluska, crustacea, sponge, alga, lamun dan biota lainnya. Terumbu karang bisa dikatakan sebagai hutan tropis ekosistem laut. Ekosistem ini terdapat di laut dangkal yang hangat dan bersih dan merupakan ekosistem yang sangat penting dan memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi (Darmadi, 2010)
            Diperairan Pantai Roda didapatkan jenis terumbu karang disepanjang area transect garis yakni, acropora hycinthus, ceniastrea, trachy lia, fungia, montirora, porites, millepora, acropora millepora, corallic walis sharod, tentacles green dan musroom, sedangkan organisme yamg berasosiasi diterumbu karang, yaitu  crustacea, bintang laut, ikan pogo, ikan kakap batu, dan ikan biji nangka.
Parameter osenografi sangat mempengaruhi pertumbuhan terumbu tumbu karang oleh itu dilakukan pengukuran parameter oseanografi dan hasil dari pengukuran tersebut salinitas 24 – 31 0/00, tingkat kecerahan 100 %,  kecepatan arus 1 : 20 : 06/detik, sshu perairan 28 – 32 0C. sesuai hasil pengukuran dapat dikategorikan baik karena sesuai dengan kondisi daerah tropis.
            Dari hasil pengamatan ekosistem terumbu karang di Pantai Roda dengan menggunakan transeck garis sepanjang 50 meter,  hasil identifikasi terumbu karang yang substrak pasir terdapat karang mati dan karang hidup sesuai dari hasil pengukuran parameter oseaografi lokasi ini dapat dikategorikan subur , dengan kondisi ini maka dilakukan pengukuran  jarak antara karang mati dan karang hidup untuk memprediksi tutupan karang dari hasil pengukuran karang hidup ukuran totalnya 24 meter dan karang mati 26 meter, ini dapat dikategorikan bahwa terumbu karang  dilokasi ini sesuai presentase tutupan 100% dikategorikan sangat baik, 75% baik, 50% buruk, dan 25% sangat buruk. Penyebab karang mati diakibatkan ulah manusia yang melakukan penangkapan yang tidak ramah lingkungan (illegal fishing) namun masyarakat menyadari bahwa terumbu karang sangatlah penting bagi tingkat kehidupan organisme laut maupun tingkat manusia karena manusia sangat ketergantungan dengan pencahariannya. Sehingga kesadaran tumbuh dari dalam diri mereka dan kondisi terumbuh karang dipantai roda mulai membaik.
            Disekitar terumbu karang dimana tempat praktik ini dilakuakan banyak ditemukan ikan atau organisme lain yang menjadikan karang tersebut sebagai habitat dan tempat mencari makan. Jadi kondisi terumbu karang di Pantai Roda dikategorikan baik untuk dijadikan tempat penentuan ekowisata bawah laut.
BAB V
PENUTUP
5.1.            Kesimpulan
            Sesuai dengan hasil praktikum mengenai ekosistem mangrove, lamun dan terumbu karang di Pantai Roda Desa Atowatu tanggal 01 Desember 2013, dapat disimpulkan bahwa:
·                     Hutan Mangrove memberikan perlindungan kepada berbagai organisme baik hewan darat maupun hewan air untuk bermukim dan berkembang biak. Diperairan Pantai Roda hewan darat maupun hewan laut yang berasosiasi  pada mangrove adalah semut, burung, kerang dara dan kepiting rajungan. Berdasarkan hasil perhitungan diatas didapatkan kerapatan jenis dari ke-3 stasiun yaitu, 0,02 tegakan/1 m2, 0,02 tegakan/1 m2 dan 0,04 tegakan/1 m2. Untuk kepadatan relative pada ke-3 stasiun didapatkan 400, 400 dan 1600.
·                     Padang lamun merupakan habitat bagi beberapa organisme laut. Oranisme yang berasosiasi pada padang lamun diperairan Pantai Roda, yaitu sponge dan bintang laut. Berdasarkan hasil diatas, didapatkan 3 jenis lamun yang berbeda pada ke-3 stasiun, yakni Thalassia Hemprichii, Enhalus Acoroides dan Halodule Ovalis. Brdasarkan hasil perhitungan diatas didapatkan kerapatan jenis dari ke-3 stasiun yaitu, 11 tegakan/1 m2 , 6 tegakan/1 m2 dan 4 tegakan/1 m2. Sedangkan untuk kepadatan relative didapatkan 123200, 64800 dan 47200.
·                     Hasil pengukuran karang hidup ukuran totalnya 24 meter dan karang mati 26 meter, ini dapat dikategorikan bahwa terumbu karang  dilokasi ini sesuai presentase tutupan 100% dikategorikan sangat baik, 75% baik, 50% buruk, dan 25% sangat buruk.

5.2.            Saran
             Di harapkan kedepannya, Asisten harus membimbing praktikan dalam pengambilan data dan ketersediaan alat , agar hasilnya dapat diakui kevalidannya.
 







DAFTAR PUSTAKA
Anonymous, 2009  http: //id.wikipedia.org.wiki/mangrove 
Anwar, C. 2006. Wanamina, Alternatif Pengelolaan Kawasan Mangrove BerbasisMasyarakat. Prosiding Ekspose Hasil Penelitian Pemanfaatan Jasa Hutan dan Non KayuBerbasis Masyarakat sebagai Solusi Peningkatan Produktivitas dan Pelestarian Hutan. Cisarua, 12 Desember 2003: 21-26. Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam, Bogor.
Anonymous, 2009. http: //id.wikipedia.org.wiki/pasang surut 
Eka,2005. Salinitas air laut. http://bonegeographical.blogspot.com
Fitriana, Pipit.2007.Hewan Laut; Buku Pengayaan Seri Flora dan Fauna.Jakarta:Ganeca Exact. Terrados, J. and C.M. Duarte. 2003. Southeast Asian Seagrass Ecosystem Under Stress: have we improved?
Hadi, 2008. Salinitas air lat. http//ruyct/pps702-ipb/071314a.hafidz-olii-pdf.
Hutabarat, Sahala dan Stewart M. Evans. 2008. Pengantar Oseanografi. Universitas indonesia, Jakarta.
Kardi, K.M.G.H., dan A. B. Tancung, 2007. Pengelolaan Kualitas Air Dalam Budidaya
Nontji, A. 1987. Ekosistem Mangrove. Penerbit Djambatan. Jakarta.
Prajitno,Arief ,2007.Diktat Kuliah Biologi Laut. Universitas Brawijaya. Malang.
Prajitno,Arief ,2007.Diktat Kuliah Biologi Laut. Universitas Brawijaya. Malang.
Rahmatkusnadi, 2012. Perairan Laut. http://ahmatkusnadi6.blogspot.com/ perairan laut/. diakses pada 7 mei 2012