HALAMAN PENGESAHAN
Judul
: Laporan
Praktek Lapangan Biologi Laut
Nama : Linda Pratiwi
Stambuk
: 21206013
Program Studi
: Pemanfaatan
Sumberdaya Perikanan
Fakultas : Perikanan
Dan Ilmu Kelautan
Mengetahui dan Menyetujui,
Asisten
Asbul Bahri
Dosen Koordinator Praktikum
Suharta Amijaya Husen. S.Kel, M.Si
NIDN. 0908038202
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat
Allah SWT atas limpahan rahmat serta karunia-Nya kepada penyusun sehingga
praktikum dan penyusunan laporan ini yang berjudul “ Laporan lengkap Praktikum
Mata Kuliah Biologi Laut” dapat terlaksana dengan baik. Tak lupa penyusun
mengucapkan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak berperan
penting dalam membantu penyusunan laporan ini, yaitu kepada bapak dan ibu
sebagai dosen pembimbing yang banyak memberikan semangat dan masukan baik dalam
toeri maupun pelaksanaannya.
Dalam penyusunan laporan lengkap peyusun meyadari
bahwa laporan ini sangat jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan,
oleh karena itu peyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
sehingga dapat dijadikan pedoman agar memperbaiki penyusunan laporan
selanjutnya.
Kendari, 28 Januari 2014
Linda
Pratiwi
DAFTAR ISI
HalamanJudul
Halaman Pengesahan............................................................................... i
Kata Pengantar......................................................................................... ii
Daftar Isi.................................................................................................... iii
Daftar Tabel.............................................................................................. iv
Daftar Gambar......................................................................................... v
BAB I. PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang............................................................................. 1
1.2.Tujuan.......................................................................................... 2
1.3.Manfaat........................................................................................ 3
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Perairan Laut................................................................................ 4
2.2.Pengertian Zona Intertidal........................................................... 5
2.3.Parameter Fisik............................................................................ 5
2.4.Parameter Kimia ......................................................................... 7
2.5.Biota Pada Zona Intertidal ......................................................... 7
2.6.Mangrove .................................................................................... 8
2.7.Lamun ......................................................................................... 11
2.8.Terumbu Karang ......................................................................... 14
BAB III. METODE PRAKTEK
3.1.Waktu Dan Tempat...................................................................... 20
3.2.Alat.............................................................................................. 20
3.3.Prosedur Kerja............................................................................. 21
BAB
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.Gambaran Umum Lokasi ............................................................ 23
4.2.Hasil Pengamatan........................................................................ 23
4.3.Pembahasan................................................................................. 28
BAB
V. PENUTUP
5.1.Kesimpulan.................................................................................. 35
5.2.Saran............................................................................................ 36
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Alat Dan Kegunaan...................................................................... 20
Tabel 2. Mangrove Stasiun I....................................................................... 23
Tabel 3. Mangrove Stasiun II..................................................................... 24
Tabel 4. Mangrove Stasiun III.................................................................... 24
Tabel 5. Terumbu Karang .......................................................................... 28
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang
Biologi laut, yakni ilmu pengetahuan
tentang kehidupan biota laut, berkembang begitu cepat untuk mengungkap rahasia
kehidupan berbagai jenis biota laut yang jumlah jenisnya luar biasa besarnya
dan keanekaragaman jenisnya luar biasa tingginya.
Lautan di dunia merupakan
kesatuan ekosistem dimana serangkaian komunitas dapat mempengaruhi
faktor-faktor fisik dan kimia air laut di sekelilingnya. Ekosistem yang besar
ini dapat dibagi menjadi daerah-daerah kecil dimana parameter fisika dan kimia
mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap populasi dari daerah tersebut.
Indonesia merupakan suatu negara kepulauan terdiri dari
13.667 pulau besar dan kecil, dengan luas daratannya 2.027.087 km2
(terdiri dari laut teritorial dan laut nusantara).
Laut seperti halnya
daratan dihuni oleh biota, yakni tumbuhan-tumbuhan hewan dan mikroorganisme
hidup. Biota Laut menghuni hampir semua bagian laut, mulai dari pantai
permukaan laut sampai dasar laut yang terjeluk sekalipun. Keberadaan biota laut
ini sangat menarik perhatian manusia, bukan saja karena kehidupannya yang penuh
rahasia, tetapi juga karena manfaatnya yang besar bagi kehidupan manusia.
Pemanfaatan biota laut yang makin hari makin meningkat dibarengi oleh kemajuan
pengetahuan tentang kehidupan biota laut yang tertampung dalam ilmu pengetahuan
alam laut yang dinamakan biologi laut (marine biology).
Biologi laut, yakni
ilmu pengetahuan tentang kehidupan biota laut, berkembang begitu cepat untuk mengungkap
rahasia kehidupan berbagai jenis biota laut yang jumlah jenisnya luar biasa
besarnya dan keanekaragaman jenisnya luar biasa tingginya. Tingginya
keanekaragaman jenis biota di laut barangkali hanya dapat ditandingi oleh
keanekaragaman jenis biota di hutan hujan tropik di darat.
Biota
laut hampir menghuni sebagian laut mulai dari pantai, permukaan laut sampai ke
dasar laut serta di sekitar muara sungai. Berbagai jenis dari biota laut ini
bermacam-macam mulai dari golongan tumbuhan ataupun hewan terbagi lagi dalam
beribu-ribu spesies. Pengetahuan atas masing-masing spesies perlu dikuasai
untuk dapat mempermudah dalam pengidentifikasian. Selain pengetahuan akan
berbagai biota, disamping itu juga perlu pemahaman akan dunia dan pola
perkembangan dari biota-biota laut.
1.2.
Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini,
yaitu :
1.
Mahasiswa dapat membedakan dan menunjukkan berbagai jenis mangrove,
lamun dan terumbu karang, berdasarkan spesiesnya.
2.
Dapat mengidentifikasi masing-masing jenis mangrove, lamun dan
terumbu karang yang ada dengan bantuan
buku identifikasi.
3.
Praktikan dapat mempelajari dan mengetahui morfologi mangrove,
lamun dan terumbu karang.
4.
Dapat mengetahui sistem pengambilan data
mangrove, lamun dan terumbu karang.
1.3.
Manfaat
Setelah melakukan praktikum biologi laut mangrove, lamun,
dan terumbu karang. Mahasiswa diharapkan telah dapat memahami cara pengambilan
data dan dapat menjelaskan morfologi mangrove, lamun dan terumbu karang, serta
mampu mengklasifikasikan dalam susunan yang benar serta dapatmeningkatkan pengetahuan dan wawasan praktikan, untuk mendapatkan data dan
informasi mengenai organisme laut terutama yang hidup di daerah pantai.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1.
Perairan Laut
Perairan
Laut adalah wilayah permukaan bumi yang tertutup oleh air asin. Perairan laut
dari pantai sampai ke dasar laut. Ilmu yang mempelajari tentang keadaan lautan
disebut oseanografi. Luas laut
dibandingkan dengan daratan adalah 7 : 3 (Rahmatkusnadi, 2012).
Laut
adalah kumpulan air asin dalam jumlah yang banyak dan luas yang menggenangi dan
membagi daratan atas benua atau pulau. Laut merupakan air yang menutupi
permukaan tanah yang sangat luas dan umumnya mengandung garam dan berasa asin.
Biasanya air mengalir yang ada di darat akan bermuara ke laut.
Air
di laut merupakan campuran dari 96,5% air murni dan 3,5% material lainnya
seperti garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan
partikel-partikel tak terlarut. Sifat-sifat fisis utama air laut ditentukan
oleh 96,5% air murni (Wikipedia, 2012).
Laut,
menurut sejarahnya, terbentuk 4,4 milyar tahun yang lalu, dimana awalnya
bersifat sangat asam dengan air yang mendidih (dengan suhu sekitar 100 °C)
karena panasnya Bumi pada saat itu. Asamnya air laut terjadi karena saat itu
atmosfer Bumi dipenuhi oleh Karbondioksida. Keasaman air inilah yang
menyebabkan tingginya pelapukan dan menyebabkan air laut menjadi asin seperti
sekarang ini.
2.2.
Pengertian Zona Intertidal
Menurut Anonymous (2009), zona Intertidal (pasang surut ) adalah bagian
dari pantai dan laut. Kadang dikenal sebagai zona daerah pesisir .Merupakan
area yang ditunjukan ke angkasa pada air surut dan menyelam pada pasang naik
.Area ini merupakan suatu potongan sempit ,seperti di Pulau Pasifik yang hanya
mempunyai cakupan pasang surut sempit atau garis pantai yang berhubungan dengan
pasang surut tinggi.
2.3.
Parameter
Fisika
1.
Pasang surut
Tipe pasang surut
ditentukan oleh frekuensi air pasang dan surut setiap hari . Jika perairan
tersebut mengalami satu kali pasang dan satu kali surut disebut pasang surut
tunggal, jika terjadi 2 kali pasang dan 2 kali surut dalam satu hari disebut
pasang surut ganda. Pasang surut peralihan antara tunggal dan ganda disebut”
pasang surut campuran” (Prajitno , 2007).
2.
Suhu
Kisaran perubahannya kecil, karena sifat fisiknya, seperti di lautan,
biasanya jarang melebihi lethal organisme. Di daerah intertidal biaanya
dipengaruhi oleh suhu udara selama periode berbeda-beda, suhu mempunyai kisaran
luas baik secara harian / musiman. Kisaran ini dapat melebihi batas toleransi
(Prajitno 2007).
Jika pasang surut terjadi ketika suhu udara minimum (daerah
sedang-dingin, kutub) atau ketika suhu udara maximum (tropik), batas lethal
dapat terlampaui dan organisme dapat mati. Walaupun kematian tidak segera
terjadi, organisme akan menjadi semakin lemah karena suhu yang ekstrim sehingga
tidak dapat menjalankan kegiatan seperti biasa dan akan mati karena sebab
sekunder. Suhu juga mempunyai pengaruh yang tidak langsung.Organisme laut dapat
mati karena kehabisan air. Kehabisan air dapat dipercepat dengan meningkatnya
suhu
3.
Gelombang
Gelombang dibagi menjadi :
1.
Ombak terjun biasanya terlihat di pantai
yang lautnya terjal. Ombak ini menggulung tinggi,
kemudian jatuh dengan bunyi yang keras dan bergemuruh.
2.
Ombak landau terbentuk di pantai yang dasar
lautnya landau. Pada waktu ombak menyerbu pantai, pada bagian depannya terdapat
sebaris buih yang senantiasa berjatuhan. Ombak landau selamanya berada dalam
keadaan hamper pecah. Berkurangnya ke dalam air tidak secara mendadak, sehingga
ombak bergulung ke pantai agak jauh sebelum pecah (Prajitno, 2007).
4.
Kecerahan
Kecerahan (perairan) adalah
sebagian cahaya yang diteruskan di dalam air dan dinyatakan dengan persen (%)
dari beberapa panjang gelombang di daerah spektrum yang terlihat cahaya
yang melalui lapisan sekitar satu meter, jatuh agak lurus pada permukaan air (Kardi
dan Tancung, 2007).
2.4.
Parameter
Kimia
Ø
Salinitas
Menurut Eka
(2005), Salinitas adalah jumlah total material terlarut (yang dinyatakan dalam
gram) yang terkandung dalam 1 kg air laut. Material yang terlarut tersebut 89 %
terdiri dari garam Chlor, sedangkan sisanya 11 % terdiri dari unsur-unsur
lainnya. Satuan salinitas adalah 0/00 (per mil). Faktor utama yang mempengaruhi
perubahan salinitas yaitu :
·
Evaporasi
(penguapan) air laut
·
Hujan
·
Mencair/membekunya
es
·
Aliran
sungai menuju ke laut
Faktor-faktor
yang mempengaruhi distribusi suhu dan salinitas di perairan ini adalah
penyerapan panas (heat flux), curah hujan (presipitation), aliran
sungai (flux) dan pola sirkulasi arus. Perubahan pada suhu dan salinitas
akan menaikan atau mengurangi densitas air laut di lapisan permukaan sehingga
memicu terjadinya konveksi ke lapisan bawah (Hadi, 2008).
2.5.
Biota Pada Zona Intertidal
Pada kawasan intertidal banyak didominasi oleh hewan-hewan yang bergerak
cepat untuk mencari makan seperti beberapa jenis kepiting dan atau mengubur
diri ke dalam pasir seperti beberapa jenis kerang-kerangan (bivalve) dan cacing
pantai (Annelida). Khusus pada zona intertidal, hewan-hewan yang membenamkan
diri pada pasir (infauna) lebih banyak dijumpai dibandingkan dengan daerah
subtidal yang didominasi oleh hewan-hewan kecil yang hidup di atas permukaan
pasir (epifauna) (Wirahman, 2009).
Komposisi spesies penyusun makrobentos di zona intertidal Desa Angkatan
dan Desa Bilis-Bilis adalah spesies dari phylum Annelida (Polychaeta), phylum
Mollusca (Bivalvia), phylum Anthropoda (Crustacea, Amphipoda) dan phylum
Sipunculan, Montipora sp umunya
ditemukan dengan bentuk koloni yang submassive, laminar, foliaceous, encrusting
atau banching. Memiliki koralit yang sangat kecil.Tidak memiliki
kolumella.Septa menuju ke dalam dengan dinding koralit terpisah dengan
konesteum tapi juga kadang-kadang menyatu.Koloni memiliki waran coklat
keabu-abuan, kadang-kadang warnanya lebih muda di sepanjang tepinya.Umumnya
terdapat pada daerah intertidal terutama di puncak karang.Cymodoceamotundata
adalah salah satu jenis yang dominan pada zona intertidal (Prajitno, 2007).
2.6.
Manggrove
Klasifikasi dari jenis mangrove
Rizophora Stylosa dan Soneretia Alba, yaitu sebagai berikut :
a.
Rizophora Stylosa
Kingdom : Plantae
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Ordo
: Malpighiales
Family
: Rhizophoraceae
Genus
: Rhizophora
Species
: Rhizophora stylosa
b.
Soneratia Alba
Divisi
:Magnoliophyta
Kelas :Magnoliopsida
Bangsa
:Magnoliales
Suku
:Sonneratiaceae
Marga :Sonneratia
Jenis :Sonneratiaalba
Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh
di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis
pantai dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya
di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik
(Anonymous, 2009).
Hutan
mangrove juga menyediakan habitat alami yang unik bagi berbagai macam flora dan
fauna laut serta air payau. Dalam dua dekade ini keberadaan ekosistem mangrove
mengalami penurunan kualitas secara drastis.
Saat ini mangrove yang tersisa
hanyalah berupa komunitas - komunitas mangrove yang ada di sekitar muara -
muara sungai dengan ketebalan 10 -100 meter, didominasi oleh Avicennia marina diikuti oleh jeni Rhizophora
mucronata, Sonnerati alba dan Sonneratia caseolaris yang semuanya memiliki
manfaat sendiri, misalkan pohon Avicennia memiliki kemampuan dalam
mengakumulasi (menyerap dan menyimpan dalam organ daun, akar dan batang) logam
berat pencemar, sehingga keberadaan mangrove dapat berperan untuk menyaring dan
mereduksi tingkat pencemaran diperairan laut dan manfaat ekonomis seperti hasil
kayu serta bermanfaat sebagai pelindung bagi lingkungan ekosistem daratan dan
lautan.
Hutan
Mangrove memberikan perlindungan kepada berbagai organisme baik hewan darat
maupun hewan air untuk bermukim dan berkembang biak. Hutan Mangorove dipenuhi
pula oleh kehidupan lain seperti mamalia, amfibi, reptil, burung, kepiting,
ikan, primata, serangga dan sebagainya. Selain menyediakan keanekaragaman
hayati (biodiversity), ekosistem Mangorove juga sebagai plasma nutfah (geneticpool)
dan menunjang keseluruhan sistem kehidupan di sekitarnya. Habitat Mangorove
merupakan tempat mencari makan (feeding ground) bagi hewan-hewan
tersebut dan sebagai tempat mengasuh dan membesarkan (nursery ground),
tempat bertelur danmemijah (spawning ground) dan tempat berlindung
yangaman bagi berbagai ikan-ikan kecil dari predator (Rahmawaty, 2006).
Keberadaan
hutan mangrove dapat sebagai penahan angin (win breaker) sehingga
kecepatan dan kekuatan angin dapat berkurang atau dibelokkan sebelum
sampai ke permukiman penduduk. Hutan mangrove secara umum mampu mempertahankan
keberadaan daratan di tepi pantai. Batang mangrove yang rapat dengan banyak
akar nafas disekitarnya mampu menahan tanah di daerah pantai dari kikisan air
laut. Hutan mangrove memiliki produktifitas primer yang tinggi karena
dapat memberikan kontribusi yang besar berupa bahan organik (Triatmoko dan
Kade, 2007).
2.7.
Lamun
Lamun
(seagrass) adalah tumbuhan berbunga (angiospermae) yang berbiji satu
(monokotil) dan mempunyai akar rimpang, daun, bunga dan buah. Jadi sangat
berbeda dengan rumput laut (algae). Lamun dapat ditemukan di seluruh dunia
kecuali di daerah kutub.
Peranan padang lamun secara fisik di
perairan laut dangkal adalah membantu mengurangi tenaga gelombang dan arus,
menyaring sedimen yang terlarut dalam air dan menstabilkan dasar sedimen.
Peranannya di perairan laut dangkal adalah kemampuan berproduksi primer yang
tinggi yang secara langsung berhubungan erat dengan tingkat kelimpahan
produktivitas perikanannya. Keterkaitan
perikanan dengan padang lamun sangat sedikit diinformasikan, sehingga perikanan
di padang lamun Indonesia hampir tidak pernah diketahui. Keterkaitan antara
padang lamun dan perikanan udang lepas pantai sudah dikenal luas di perairan
tropika Australia (Zulkifli,2003)
Selain itu,
padang lamun diketahui mendukung berbagai jaringan rantai makanan, baik yang
didasari oleh rantai herbivor maupun detrivor. Nilai ekonomis biota yang
berasosiasi dengan lamun diketahui sangat tinggi. Ekosistem padang lamun
memiliki nilai pelestarian fungsi ekosistem serta manfaat lainnya di masa
mendatang sesuai dengan perkembangan teknologi, yaitu produk obat-obatan dan
budidaya laut. Beberapa negara telah memanfaatkan lamun untuk pupuk, bahan
kasur, makanan, stabilisator pantai, penyaring limbah, bahan untuk pabrik
kertas (Husni, 2003).
Padang lamun
merupakan habitat bagi beberapa organisme laut. Hewan yang hidup dipadang lamun
ada yang sebagai penghuni tetap dan ada pula yang bersifat sebagai pengunjung.
Ada hewan yang datang untuk memijah seperti ikan dan ada pula hewan yang datang
mencari makan seperti sapi laut (dugong-dugong) dan penyu (turtle) yang makan
lamun Syriungodium isoetifolium dan Thalassia hemprichii (Husni, 2003).
Tumbuhan
lamun merupakan satu-satunya tumbuhan berbunga
dan berpembuluh (vascular plant) yang
sudah sepenuhnya menyesuaikan
diri hidup terbenam di
dalam air laut.
Beberapa jenis lamun bahkan
ditemukan tumbuh sampai
8–15 meter dan 40
meter. Tumbuhan lamun
jelas memiliki akar, batang,
daun, buah dan biji. Lamun termasuk dalam kelas monocotyledoneae, anak kelas
alismatidae (Rifqi, A.,
2008), yang terdiri
atas 2 famili, yaitu
hydrocharitacheae dan
potamogetonaceae, 12 genera,
dan 60 spesies.
7 generasi diantaranya berada
di perairan tropis,
dari family hydrocharitacheae yaitu
enhalus sp, halophila sp,
dan thallassia sp,
sedangkan dari famili potamogetonaceae, yaitu
chymodeceae sp, halodule sp,
syringodium sp, dan
thalassodendron sp. (Hartog, 1970
dalam laporan CORMAP, 2006). Lamun
termasuk dalam divisi
thallophys (tumbuhan berthalus) dengan
ciri khas memiliki akar, batang dan daun belum bisa
dibedakan (Rifqi, A. 2008)
Adapun
klasifikasi lamun yang berada diperairan Pantai Roda, yaitu :
1.
Thalassia Hemprichii
Kingdom: Plantae
Divisi : Spermatophyta
Class: Liliopsida
Ordo : Alismatales
Family:
Hydrocharitaceae
Genus: Thalassia .
Spesies :Thalassia hemprichii
2.
Halophila Ovallis
Devisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Bangsa : Hydrocharitales
Suku : Hydrocharitaceae
Marga : Halophila
Jenis : Halophila Ovalis
3.
Enhalus Acoroides
Kingdom: Plantae
Divisi : Spermatophyta
Class:
Liliopsida
Ordo: Hydrocharitales
Family: Hydrocharitaceae
Genus: Enhalus
Spesies
: Enhalus acoroide
2.8.
Terumbu Karang
Klasifikasi
terumbu karang yang berada disekitar transect garis sepanjang 50 meter di
Perairan Pantai Roda, yaitu :
a.
Acrophora Hicintus
Family
: Acroporidae
Genus : Acropora
Spesies : Acropora
Hyacinthus
b.
Fungia Elegant
Kingdom : Animalia
Phylum : Coelenterata
Classis
: Anthozoa
Ordo : Madreporaria
Familia
: Fungidae
Genus : Fungia
Spesies : Fungia elegant
c.
Montipora Stilosa
Family
: Acroporidae
Genus : Montipora
Spesies : Montipora
Stilosa
d.
Porites Lutea
Sub Kingdom : Metazoa
Phylum
: Coelenterata
Sub Phylum : Cnidaria
Classis : Anthozoa
Sub
Classis : Hexacorallina
Ordo
: Screllactinia
Family
: Poritidae
Genus : Porites
Spesies : Porites Lutea
e.
Acrophora Millepora
Family
: Acroporidae
Genus : Acropora
Spesies : Acropora
Millepora
f.
Millepora
Kingdom : Animalia
Phylum
: Cnidaria
Class
: Hidrozoa
Ordo
: Anthomedusae
Family
: Millepollidae
Genus
: Millepora
Terumbu karang merupakan salah satu
ekosistem yang amat penting bagi keberlanjutan sumberdaya yang terdapat di
kawasan pesisir dan lautan, dan umumnya tumbuh di daerah tropis, serta
mempunyai produktivitas primer yang tinggi (10 kg C/m2/tahun).
Tingginya produktivitas primer di daerah terumbu karang ini menyebabkan
terjadinya pengumpulan hewan-hewan yang beranekaragam seperti; ikan, udang,
mollusca, dan lainnya (Zalfa, 2011).
Ekosistem terumbu karang merupakan
bagian dari ekosistem laut yang penting karena menjadi sumber kehidupan bagi
beraneka ragam biota laut. Di dalam ekosistem terumbu karang ini pada umumnya
hidup lebih dari 300 jenis karang, yang terdiri dari sekitar 200 jenis ikan dan
berpuluh‐puluh jenis moluska, crustacean, sponge, alga, lamun
dan biota lainnya. Terumbu karang bisa dikatakan sebagai hutan tropis ekosistem
laut. Ekosistem ini terdapat di laut dangkal yang hangat dan bersih dan
merupakan ekosistem yang sangat penting dan memiliki keanekaragaman hayati yang
sangat tinggi (Darmadi, 2010)
Koloni karang dibentuk oleh ribuan hewan kecil
yang disebut Polip. Dalam
bentuk sederhananya, karang terdiri dari satu polip saja yang mempunyai bentuk
tubuh seperti tabung dengan mulut yang terletak di bagian atas dan dikelilingi
oleh Tentakel.
Namun pada kebanyakan Spesies,
satu individu polip karang akan berkembang menjadi banyak individu yang disebut
koloni.
Hewan ini memiliki bentuk unik dan warna beraneka rupa serta dapat menghasilkan
CaCO3. Terumbu karang merupakan habitat bagi berbagai spesies.
Terumbu karang terdapat
di lingkungan perairan yang agak dangkal.Terumbu karang terutama terbentuk dari
endapan-endapan kalsium karbonat (CaCO3) yang dihasilkan oleh
organisme karang, alga berkapur dan organisme lain yang mengeluarkan kalsium
karbonat.
Sedikitnya ada dua jenis karang,
yakni:
1.
Terumbu karang yang keras antara lain elkhorn coral
dan juga brai coral. Ia merupakan jenis karang batu kapur dengan tekstur yang
sangat keras dan kemudian membentuk batuan karang. Meski tampilannya kokoh,
namun jenis karang yang satu ini sangat mudah rapuh sebab rentan terhadap
perubahan lingkungan di sekitarnya.
2.
Terumbu karang lunak, misalnya sea fingers dan juga
sea whips. Terumbu karang yang satu ini tidak membentuk karang. Ada beberapa
tipe terumbu karang lunak ini, misalnya saja fringing reef yang tumbuh di
sepanjang pantai di wilayah continental shelf.
Jika didasarkan pada
bentuknya, maka sedikitnya ada 4 bentuk terumbu karang antara lain :
1.
Terumbu karang tepi atau fringing reefs. Ia berkembang secara
umum pada pesisir pantai di pulau-pulau besar. Terumbu karamg yang satu ini
memiliki bentuk melingkar dengan penanda bentukan ban atau berupa bagian endapan karang
yang telah mati dan mengelilingi pulau.
2.
Terumbu karang penghalang atau barrier reefs. Jenis terumbu karang yang
satu ini berada pada wilayah laut yang jauh dari tepi. Ia kadang berbentuk
lagoon atai kolom air dan juga berbentuk celah perairan dengan lebar puluhan
kilometer.
3.
Terumbu karang cincin atau atolls. Jenis
yang satu ini serupa dengan cincin dan mengelilingi batas dari beberapa pulau
vulkanik yang tenggelam dan menyebabkan tak adanya batasan yang jelas dengan
daratan.
4.
Terumbu karang datar atau patch reefs. Jenis yang satu ini
terletak di bawah hingga ke bagian permukaan lautan. Dalam kurun waktu
tertentu, jenis karang yang satu ini akan membatu dan membentuk pulau yang
datar.
Terumbu karang pada
umumnya hidup di pinggir pantai atau daerah yang masih terkena cahaya matahari
kurang lebih 50 m di bawah permukaan laut. Beberapa tipe terumbu karang dapat
hidup jauh di dalam laut
dan tidak memerlukan cahaya,
namun terumbu karang tersebut tidak bersimbiosis dengan zooxanthellae dan tidak
membentuk karang.
Ekosistem terumbu karang sebagian besar
terdapat di perairan tropis, sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan
hidupnya terutama suhu,
salinitas,
sedimentasi, Eutrofikasi dan memerlukan kualitas perairan
alami (pristine). Demikian halnya dengan perubahan suhu lingkungan akibat
pemanasan global yang melanda perairan tropis di tahun 1998 telah menyebabkan
pemutihan karang (coral bleaching) yang diikuti dengan kematian massal
mencapai 90-95%. Selama peristiwa pemutihan tersebut, rata-rata suhu permukaan air di
perairan Indonesia adalah 2-3 °C di atas suhu normal.
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1.
Waktu
dan Tempat
Praktikum
ini di laksanakan pada hari Minggu, Tanggal 1 Desember 2013. Pukul 08.00 – 10.00 WITA. Bertempat diperairan Pantai Roda, Desa Atowatu,
Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe Provensi Sulawesi Tenggara.
3.2.
Alat
dan Kegunaan
Adapun alat yang digunakan pada
praktikum ini disajikan pada tabel I
Tabel 1. Alat
dan Kegunaan
|
No.
|
Alat
|
Kegunaan
|
|
1
|
Meteran Roll
|
Mengukur luas
area praktikum dan untuk mengukur diameter dan tinggi pohon mangrove.
|
|
2
|
Tali Rafia
|
Membuat
transek
|
|
3
|
Pasak
|
Menentukan
batas area transek
|
|
4
|
Gps
|
Menentukan
titik koordinat
|
|
5
|
Camera
|
Untuk
dokumentasi
|
|
6
|
Alat dasar
|
Membantu
pengambilan data terumbu karang
|
|
7
|
Buku
identifikasi
|
Mengidentifikasi
jenis-jenis mangrove, lamun dan terumbu karang.
|
|
8
|
Perahu
|
Alat
transportasi
|
|
9
|
Alat tulis
|
Mencatat hasil
identifikasi
|
3.3.
Prosedur
Kerja
1.
Mangrove
·
Menentukan stasiun untuk pengambilan data
·
Diletakakan tiga plot pengamatan (substasiun) vegetasi
mangrove disepanjang transseck kuadrat dengan menggunakan tali raffia yang
beukuran 10 m x 10 m persegi.
·
Diukur diameter pohon pada ketinggian pohon 130 cm
·
Mengukur tinggi pohon dengan mengukur mulai dari akar
sampai cabang
·
Diukur diameter dan tinggi pohon menggunakan meteran
kain
·
Dicatat jumlah, jenis, diameter dan tinggi pohon
manggrove yang ada didalam plot
·
Amati jenis biota yang terdapat didalam plot
pengamatan
·
Dilakukan dokuntasi
2.
Lamun
·
Membuat transect kuadarat berukuran 1
meter x 1 meter
·
Menentukan stasiun untuk pengambilan
data
·
Bentangkan transek kuadarat yang
berukuran 1 meter x 1 meter
·
Dilakukan pengamatan pada tiap bagian
transect kuadarat dengan menghitung jumlah lamun yang berada didalam transect
kuadarat, menentukan jeni-jenis lamun, menghitung jumlah tegakkan dan kepdatan
lamun.
·
Dilakukan dokumentasi
3.
Terumbu
Karang
·
Menentukan titik koordinat tempat
identifikasi terumbukarang
·
Ditarik transect garis sepanjang 50
meter mengikuti garis pantai atau secara horizontal dengan menggunakan tali
raffia
·
Dilakukan pengukuran jarak antara karang
mati dan karang hidup
·
Mengidentifikasi bentuk pertumbuhan
karang yang berada tepat dibawah garis transect dengan jarak antara karang
hidup dan karang mati
·
Mengidentifikasi jenis-jenis karang yang
berada dibawah transect
·
Mengidentifikasi jenis organisme laut
yang berasosiasi diterumbu karang
·
Dilakukan dokumentasi
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.
Gambaran
Umum Lokasi Praktikum
Dalam melakukan praktek
Biologi Laut, di Pantai Roda Desa
Otowatu, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara Minggu tanggal
1 Desember 2013. Dengan letak geografis sebelah timur berbatasan dengan laut
Banda, sebelah selatan berbatasan dengan Bintang Samudera, sebelah barat
berbatasan dengan Kota Kendari, sebelah utara berbatasan dengan laut Banda,
dengan penduduk berbagai macam suku, dan di dominasi suku Tolaki sekitar 75%,
suku Bugis dan Sulawesi Selatan sekitar 20%, dan suku lain sekitar 5%.
Kehidupan di desa ini sebagian besar
nelayan 80%, petani dan lain-lain 20%.
4.2.
Hasil
Pengamatan
1.
Mangrove
Hasil pengambilan data mangrove oleh
kelompok 1, pada stasiun I, II dan III
adalah sebagai berikut :
Tabel 2. Stasiun I, titik
koordinat S = 030 53:590’ E = 1220 37 : 645’
|
No.
|
Jenis Identifikasi
|
Hasil Identifikasi
|
|
1
|
Jenis Mangrove
|
Soneratia
Alba
|
|
2
|
Anakan
|
3
Pohon
|
|
3
|
Diameter Pohon
|
|
|
|
-
Pohon I
|
1.64
cm
|
|
|
-
Pohon II
|
2.79
cm
|
|
4
|
Tinggi Pohon
|
|
|
|
-
Pohon I
|
4.30
meter
|
|
|
-
Pohon II
|
2
meter
|
|
5
|
Organisme Laut
|
Kepiting
|
|
|
Organisme Darat
|
Burung
|
|
6
|
%
|
5x5=0
|
|
7
|
Jumlah Pohon
|
2
Pohon
|
|
8
|
Substrat
|
Lumpur
Berpasir
|
Tabel 3. Stasiun II, titik
koordinat S = 030 53:588’ E = 1220 37 : 645’
|
No
|
Jenis Identifikasi
|
Hasil Identifikasi
|
|
1
|
Jenis Mangrove
|
Soneratia
Alba
|
|
2
|
Anakan
|
4
Pohon
|
|
3
|
Diameter Pohon
|
|
|
|
-
Pohon I
|
59
cm
|
|
|
-
Pohon II
|
157
cm
|
|
4
|
Tinggi Pohon
|
|
|
|
-
Pohon I
|
2.55
meter
|
|
-
Pohon II
|
6.70
meter
|
|
|
5
|
Organisme Laut
|
Kepiting
dan kerang
|
|
|
Organisme Darat
|
Semut
|
|
6
|
%
|
5x5=1
|
|
7
|
Jumlah Pohon
|
2
pohon
|
|
8
|
Substrat
|
Lumpur
|
Tabel 4. Stasiun III, titik
koordinat S = 030 53:592’ E = 1220 37 : 688’
|
No
|
Jenis Identifikasi
|
Hasil Identifikasi
|
|
1
|
Jenis Mangrove
|
Rizophora
Stylosa
|
|
2
|
Anakan
|
10
Pohon
|
|
3
|
Diameter Pohon
|
|
|
|
-
Pohon I
|
63
cm
|
|
-
Pohon II
|
40
cm
|
|
|
-
Pohon III
|
86
cm
|
|
|
-
Pohon IV
|
72
cm
|
|
|
4
|
Tinggi Pohon
|
|
|
|
-
Pohon I
|
2.38
meter
|
|
-
Pohon II
|
1.50
meter
|
|
|
-
Pohon III
|
1.85
meter
|
|
|
-
Pohon IV
|
2.80
meter
|
|
|
5
|
Organisme Laut
|
Kepiting
|
|
|
Organisme Darat
|
Semut
|
|
6
|
%
|
5x5=1
|
|
7
|
Jumlah Pohon
|
4
Pohon
|
|
8
|
Substrat
|
Pasir
|
2.
Lamun
v Hasil
pengambilan data Lamun pada stasiun I dengan titik koordinat S = 030 53:451’
E = 1220 37 : 548’ adalah sebagai berikut :
|
6
|
6
|
7
|
5
|
2
|
|
4
|
5
|
6
|
7
|
5
|
|
5
|
6
|
5
|
2
|
6
|
|
3
|
5
|
4
|
4
|
5
|
|
4
|
3
|
3
|
1
|
3
|
v Hasil
pengambilan data Lamun pada stasiun II dengan titik koordinat S = 030 53:439’
E= 1220 37:524’ adalah sebagai berikut :
|
5
|
6
|
3
|
3
|
4
|
|
3
|
3
|
4
|
5
|
5
|
|
3
|
4
|
3
|
4
|
4
|
|
4
|
5
|
6
|
4
|
4
|
|
4
|
5
|
6
|
6
|
5
|
v Hasil
pengambilan data Lamun pada stasiun III dengan titik koordinat S = 030 53:424’
E= 1220 37:493’ adalah sebagai berikut :
|
4
|
8
|
4
|
4
|
5
|
|
4
|
5
|
2
|
4
|
5
|
|
6
|
6
|
3
|
3
|
4
|
|
2
|
4
|
4
|
6
|
3
|
|
5
|
8
|
4
|
8
|
7
|
3.
Terumbu
Karang
Gambar hasil pengamatan di Perairan
Pantai Roda :
Gambar 1. Acropora
hycinthus Gambar
2. Tentacles green
Gambar 3. Musroom Gambar 4.
Porites lutea
Gambar 5. Millepora Gambar 6.
Coralline wallis shared
Gambar 7. Acropora millepora Gambar 8. Montipora
Dan
tiga jenis lainnya adalah ceniastrea,
trachy lia, dan fungia
Hasil pengambilan data Terumbu
Karang pada stasiun I, II dan III adalah sebagai berikut :
Tabel 5. Titik koordinat S=03.
53”310 E= 122. 37”532
|
No
|
Jarak (meter)
|
Karang Hidup
dan Karang Mati
|
|
1
|
0-3
|
Karang
Hidup
|
|
2
|
3-4
|
Karang
Mati
|
|
3
|
4-5
|
Karang
Hidup
|
|
4
|
5-8
|
Karang
Mati
|
|
5
|
8-12
|
Karang
Hidup
|
|
6
|
12-13
|
Karang
Mati
|
|
7
|
13-16
|
Karang
Hidup
|
|
8
|
16-20
|
Karang
Mati
|
|
9
|
20-25
|
Karang
Hidup
|
|
10
|
25-32
|
Karang
Mati
|
|
11
|
32-33
|
Karang
Hidup
|
|
12
|
33-37
|
Karang
Mati
|
|
13
|
37-41
|
|
|
14
|
41-47
|
Karang
Mati
|
|
15
|
47-50
|
Karang
Hidup
|
4.3.
Pembahasan
1.
Mangrove
Hutan mangrove adalah hutan yang
tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis
pantai dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya
di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik
(Anonymous, 2009).
Hutan
Mangrove memberikan perlindungan kepada berbagai organisme baik hewan darat
maupun hewan air untuk bermukim dan berkembang biak. Diperairan Pantai Roda
hewan darat maupun hewan laut yang berasosiasi
pada mangrove adalah semut, burung, kerang dara dan kepiting rajungan.
Berdasarkan hasil diatas, didapatkan
2 jenis mangrove yang berbeda pada ke-3 stasiun, yakni Soneratia Alba dan Rizophora
Stylosa, dengan jumlah anakkan keseluruhan 17 pohon.
Untuk mengetahui kerapatan jenis
(Di) dan kepadatan relative (RDi) dari ke-3 stasiun dilakukan perhitungan dengan
menggunakan rumus Odum (1917), sebagai berikut :
Ø Kerapatan Jenis Pada Stasiun I
Di
=
dimana : Di
= Kerapatan Jenis (tegakan/1 m2)
Ni
= Jum. Total Species (tegakan)
A
= Luas Daerah Yang Disampling (1 m2)
Di =
= 0,02 tegakan/1 m2
s
Ø
Kepadatan Relatif
Pada Stasiun I
RDi = Ni x 100 x n
Dimana
: RDi = Kepadatan Relatif
Ni = Jum. Total Species (tegakan)
N = Jum. Total Individu Seluruh Species
RDi
= 2 x 100 x 2 = 400
Ø
Kerapatan Jenis
Pada Stasiun II
Di =
dimana : Di
= Kerapatan Jenis (tegakan/1 m2)
Ni = Jum.
Total Species (tegakan)
A
= Luas Daerah Yang Disampling (1 m2)
Di =
= 0,02 tegakan/1 m2
Ø
Kepadatan Relatif
Pada Stasiun II
RDi
= Ni x 100 x n
Dimana : RDi = Kepadatan Relatif
Ni = Jum. Total Species (tegakan)
N = Jum. Total Individu Seluruh Species
RDi
= 2 x 100 x 2 = 400
Ø Kerapatan Jenis Pada Stasiun III
Di =
dimana : Di
= Kerapatan Jenis (tegakan/1 m2)
Ni
= Jum. Total Species (tegakan)
A
= Luas Daerah Yang Disampling (1 m2)
Di =
= 0,04 tegakan/1 m2
Ø
Kepadatan Relatif
Pada Stasiun III
RDi
= Ni x 100 x n
dimana : RDi = Kepadatan Relatif
Ni = Jum. Total Species (tegakan)
N = Jum. Total Individu Seluruh Species
RDi
= 4 x 100 x 4 = 1600
2.
Lamun
Lamun (seagrass) adalah tumbuhan
berbunga (angiospermae) yang berbiji satu (monokotil) dan mempunyai akar
rimpang, daun, bunga dan buah. Jadi sangat berbeda dengan rumput laut (algae).
Lamun dapat ditemukan di seluruh dunia kecuali di daerah kutub.
Padang lamun merupakan habitat bagi
beberapa organisme laut. Oranisme yang berasosiasi pada padang lamun diperairan
Pantai Roda, yaitu sponge dan bintang laut.
Berdasarkan
hasil diatas, didapatkan 3 jenis lamun yang berbeda pada ke-3 stasiun, yakni Thalassia Hemprichii, Enhalus Acoroides dan Halodule Ovalis.
Untuk mengetahui kerapatan jenis
(Di) dan kepadatan relative (RDi) dari ke-3 stasiun dilakukan perhitungan
dengan menggunakan rumus Odum (1917), sebagai berikut :
Ø Kerapatan Jenis Pada Stasiun I
Di
=
dimana : Di
= Kerapatan Jenis (tegakan/1 m2)
Ni
= Jum. Total Species (tegakan)
A
= Luas Daerah Yang Disampling (1 m2)
Di =
= 11 tegakan/1 m2
Ø
Kepadatan Relatif
Pada Stasiun I
RDi = Ni x 100 x n
dimana : RDi = Kepadatan Relatif
Ni = Jum. Total Species (tegakan)
N = Jum. Total Individu Seluruh Species
RDi
= 11 x 100 x 112 = 123200
Ø
Kerapatan Jenis
Pada Stasiun II
Di =
dimana : Di
= Kerapatan Jenis (tegakan/1 m2)
Ni =
Jum. Total Species (tegakan)
A
= Luas Daerah Yang Disampling (1 m2)
Di =
= 6 tegakan/1 m2
Ø
Kepadatan Relatif
Pada Stasiun II
RDi
= Ni x 100 x n
dimana : RDi = Kepadatan Relatif
Ni = Jum. Total Species (tegakan)
N = Jum. Total Individu Seluruh Species
RDi
= 6 x 100 x 6 = 64800
Ø Kerapatan Jenis Pada Stasiun III
Di =
dimana : Di
= Kerapatan Jenis (tegakan/1 m2)
Ni
= Jum. Total Species (tegakan)
A
= Luas Daerah Yang Disampling (1 m2)
Di =
= 4 tegakan/1 m2
Ø
Kepadatan Relatif
Pada Stasiun III
RDi
= Ni x 100 x n
dimana : RDi = Kepadatan Relatif
Ni = Jum. Total Species (tegakan)
N = Jum. Total Individu Seluruh Species
RDi = 4 x 100 x 118 = 47200
3.
Terumbu
Karang
Ekosistem terumbu karang merupakan
bagian dari ekosistem laut yang penting karena menjadi sumber kehidupan bagi
beraneka ragam biota laut. Di dalam ekosistem terumbu karang ini pada umumnya
hidup lebih dari 300 jenis karang, yang terdiri dari sekitar 200 jenis ikan dan
berpuluh‐puluh jenis moluska, crustacea, sponge, alga, lamun
dan biota lainnya. Terumbu karang bisa dikatakan sebagai hutan tropis ekosistem
laut. Ekosistem ini terdapat di laut dangkal yang hangat dan bersih dan
merupakan ekosistem yang sangat penting dan memiliki keanekaragaman hayati yang
sangat tinggi (Darmadi, 2010)
Diperairan Pantai Roda didapatkan
jenis terumbu karang disepanjang area transect garis yakni, acropora hycinthus,
ceniastrea, trachy lia, fungia, montirora, porites, millepora, acropora
millepora, corallic walis sharod, tentacles green dan musroom, sedangkan organisme
yamg berasosiasi diterumbu karang, yaitu
crustacea, bintang laut, ikan pogo, ikan kakap batu, dan ikan biji
nangka.
Parameter
osenografi sangat mempengaruhi pertumbuhan terumbu tumbu karang oleh itu
dilakukan pengukuran parameter oseanografi dan hasil dari pengukuran tersebut
salinitas 24 – 31 0/00, tingkat kecerahan 100 %, kecepatan arus 1 : 20 : 06/detik, sshu
perairan 28 – 32 0C. sesuai hasil pengukuran dapat dikategorikan
baik karena sesuai dengan kondisi daerah tropis.
Dari hasil pengamatan ekosistem
terumbu karang di Pantai Roda dengan menggunakan transeck garis sepanjang 50
meter, hasil identifikasi terumbu karang
yang substrak pasir terdapat karang mati dan karang hidup sesuai dari hasil pengukuran
parameter oseaografi lokasi ini dapat dikategorikan subur , dengan kondisi ini
maka dilakukan pengukuran jarak antara
karang mati dan karang hidup untuk memprediksi tutupan karang dari hasil
pengukuran karang hidup ukuran totalnya 24 meter dan karang mati 26 meter, ini
dapat dikategorikan bahwa terumbu karang
dilokasi ini sesuai presentase tutupan 100% dikategorikan sangat baik,
75% baik, 50% buruk, dan 25% sangat buruk. Penyebab karang mati diakibatkan
ulah manusia yang melakukan penangkapan yang tidak ramah lingkungan (illegal fishing) namun masyarakat menyadari
bahwa terumbu karang sangatlah penting bagi tingkat kehidupan organisme laut
maupun tingkat manusia karena manusia sangat ketergantungan dengan
pencahariannya. Sehingga kesadaran tumbuh dari dalam diri mereka dan kondisi
terumbuh karang dipantai roda mulai membaik.
Disekitar terumbu karang dimana
tempat praktik ini dilakuakan banyak ditemukan ikan atau organisme lain yang
menjadikan karang tersebut sebagai habitat dan tempat mencari makan. Jadi kondisi
terumbu karang di Pantai Roda dikategorikan baik untuk dijadikan tempat
penentuan ekowisata bawah laut.
BAB V
PENUTUP
5.1.
Kesimpulan
Sesuai dengan hasil praktikum
mengenai ekosistem mangrove, lamun dan terumbu karang di Pantai
Roda Desa Atowatu
tanggal 01 Desember
2013, dapat disimpulkan bahwa:
·
Hutan
Mangrove memberikan perlindungan kepada berbagai organisme baik hewan darat
maupun hewan air untuk bermukim dan berkembang biak. Diperairan Pantai Roda
hewan darat maupun hewan laut yang berasosiasi
pada mangrove adalah semut, burung, kerang dara dan kepiting rajungan.
Berdasarkan hasil perhitungan diatas didapatkan kerapatan jenis dari ke-3
stasiun yaitu, 0,02 tegakan/1 m2, 0,02 tegakan/1 m2 dan
0,04 tegakan/1 m2. Untuk kepadatan relative pada ke-3 stasiun
didapatkan 400, 400 dan 1600.
·
Padang lamun merupakan habitat bagi beberapa organisme
laut. Oranisme yang berasosiasi pada padang lamun diperairan Pantai Roda, yaitu
sponge dan bintang laut. Berdasarkan hasil diatas, didapatkan 3 jenis lamun yang
berbeda pada ke-3 stasiun, yakni Thalassia
Hemprichii, Enhalus Acoroides dan Halodule Ovalis. Brdasarkan hasil perhitungan
diatas didapatkan kerapatan jenis dari ke-3 stasiun yaitu, 11 tegakan/1 m2 , 6 tegakan/1 m2 dan 4
tegakan/1 m2. Sedangkan untuk kepadatan relative didapatkan 123200,
64800 dan 47200.
·
Hasil pengukuran
karang hidup ukuran totalnya 24 meter dan karang mati 26 meter, ini dapat
dikategorikan bahwa terumbu karang
dilokasi ini sesuai presentase tutupan 100% dikategorikan sangat baik,
75% baik, 50% buruk, dan 25% sangat buruk.
5.2.
Saran
Di harapkan kedepannya, Asisten harus
membimbing praktikan dalam pengambilan data dan ketersediaan alat , agar
hasilnya dapat diakui kevalidannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonymous, 2009 http: //id.wikipedia.org.wiki/mangrove
Anwar, C.
2006. Wanamina, Alternatif Pengelolaan Kawasan Mangrove BerbasisMasyarakat.
Prosiding Ekspose Hasil Penelitian Pemanfaatan Jasa Hutan dan Non KayuBerbasis
Masyarakat sebagai Solusi Peningkatan Produktivitas dan Pelestarian Hutan.
Cisarua, 12 Desember 2003: 21-26. Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam,
Bogor.
Anonymous, 2009. http: //id.wikipedia.org.wiki/pasang surut
Eka,2005. Salinitas air laut. http://bonegeographical.blogspot.com
Fitriana, Pipit.2007.Hewan Laut; Buku Pengayaan Seri Flora dan
Fauna.Jakarta:Ganeca Exact. Terrados, J. and C.M. Duarte. 2003. Southeast Asian
Seagrass Ecosystem Under Stress: have we improved?
Hadi,
2008. Salinitas air lat. http//ruyct/pps702-ipb/071314a.hafidz-olii-pdf.
Hutabarat,
Sahala dan Stewart M. Evans. 2008. Pengantar Oseanografi. Universitas indonesia,
Jakarta.
Kardi, K.M.G.H., dan A. B. Tancung, 2007.
Pengelolaan Kualitas Air Dalam Budidaya
Nontji,
A. 1987. Ekosistem Mangrove. Penerbit Djambatan. Jakarta.
Prajitno,Arief ,2007.Diktat Kuliah Biologi Laut. Universitas
Brawijaya. Malang.
Prajitno,Arief ,2007.Diktat Kuliah Biologi Laut. Universitas
Brawijaya. Malang.
Rahmatkusnadi, 2012. Perairan Laut. http://ahmatkusnadi6.blogspot.com/ perairan laut/. diakses pada 7 mei 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar